Dinas Lingkungan Hidup Klaim Kualitas Udara di GBK Berkategori Baik

JAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengklaim kualitas udara di Gelora Bung Karno masuk kategori baik. Hal ini berdasarkan pa

Dinas Lingkungan Hidup Kerahkan 1.000 Pasukan Oranye Saat Asian Games
WORKSHOP PERCEPATAN OPERASIONAL SRN
Direktorat IGRK dan MPV Menginisiasi Kesepakatan Metodologi dalam Penghitungan Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

JAKARTA, KOMPAS.com – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengklaim kualitas udara di Gelora Bung Karno masuk kategori baik. Hal ini berdasarkan pantauan dari Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) Ambien Otomatis yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. “Kategori baik artinya tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek buruk bagi kesehatan manusia atau pun hewan dan tidak memengaruhi tumbuhan, bangunan atau pun nilai estetika,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Isnawa Adji dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/7/2018). Isnawa memaparkan, sesuai pantauan dari SPKU di GBK milik KLHK pada Rabu (25/7/2018), tercatat parameter polutan PM10 terukur sebesar 52 ug/Nm3. Angka ini masih jauh di bawah baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 150 ug/Nm3. Sedangkan parameter PM2.5 terukur 43 ug/Nm3 dari baku mutu 65 ug/Nm3. Baca juga: Masa Mudik Lebaran, Kualitas Udara di Jakarta Membaik Selain itu, parameter S02 sebesar 166 ug/Nm3 juga masih jauh dari baku mutu 900 ug/Nm3. Untuk NO2, terukur 156 ug/Nm3 dari ambang batas 400 ug/Nm3. Adapun CO terukur sebesar 1.367 ug/Nm3 yang masih sangat jauh di bawah baku mutu 30.000 ug/Nm3. “Bahkan, parameter polutan jenis O3 terukur 0 ug/Nm3 dari ambang batas 235 ug/Nm3 dan polutan jenis HC juga terukur nihil dari ambang batas 160 ug/Nm3,” kata Isnawa. Menurut Isnawa, salah satu strategi yang telah terbukti efektif meningkatkan kualitas udara yakni perluasan sistem ganjil genap. Berdasarkan pantauan SPKU, telah terjadi penurunan konsentrasi gas CO, NO dan THC selama penerapan perluasan sistem ganjil genap. “Polutan jenis ini bersumber dari kendaraan bermotor,” kata Isnawa.  Dari hasil monitoring kualitas udara di Stasiun DKI 1 Bundaran Hotel Indonesia, terjadi penurunan konsentrasi CO sebesar 26,92 persen dan konsentrasi THC turun sebesar 12,62 persen. Baca juga: Sandiaga: Jakarta, Kota dengan Indeks Kualitas Udara Terburuk di Dunia Sementara itu di Stasiun DKI 2 Kelapa Gading terjadi penurunan konsentrasi CO sebesar 10,19 persen, kosentrasi NO turun 12,33 persen, dan NO2 turun sebesar 1,48 persen. Sedangkan di Stasiun DKI 4 Lubang Buaya terjadi penurunan kosentrasi CO sebesar 6,75 persen dan NO sebesar 22,97 persen. “Secara umum sebenarnya semua parameter kualitas udara Jakarta masih di bawah baku mutu. Terlebih lagi dengan penerapan ganjil genap ini, polutan-polutan yang bersumber dari kendaraan bermotor semakin berkurang,” kata Isnawa. Selain pembatasan kendaraan, strategi lain yang ditempuh Pemprov DKI Jakarta dalam memperbaiki kualitas udara jelang Asian Games adalah mengelar uji emisi secara masif sejak tahun lalu. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah berupaya memperbaiki kualitas udara Ibu Kota jelang Asian Games karena salah satu parameter keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018 adalah udara bersih bagi para atlet. PenulisNibras Nada Nailufar EditorDian Maharani

Penulis : Nibras Nada Nailufar
Editor : Dian Maharani

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0